2. Tuberkulosis (TB) Dengan HIV

exp date isn't null, but text field is

TB:

No ICPC-2 : A70 Tuberkulosis

No ICD-10 : A15 Respiratory tuberkulosis, bacteriologiccaly and histologically confirmed

HIV:

No. ICPC-2 : B90 HIV-infection/AIDS

No. ICD-10 : Z21 Asymptomatic human immunodeficiency virus (HIV) infection status

 

Masalah Kesehatan

TB meningkatkan progresivitas HIV karena penderita TB dengan HIV sering mempunyai kadar jumlah virus HIV yang tinggi.

Pada keadaan koinfeksi terjadi penurunan imunitas lebih cepat dan pertahanan hidup lebih singkat walaupun pengobatan TB berhasil.

Penderita TB-HIV mempunyai kemungkinan hidup lebih singkat dibandingkan penderita HIV yang tidak pernah terkena TB. Obat antivirus HIV (ART) menurunkan tingkat kematian pada pasien TB-HIV.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Batuk bukan merupakan gejala utama pada pasien TB dengan HIV.

Pasien diindikasikan untuk pemeriksaan HIV jika:

  1. Berat badan turun drastis
  2. Sariawan/Stomatitis berulang
  3. Sarkoma Kaposi
  4. Riwayat perilaku risiko tinggi seperti
    1. Pengguna NAPZA suntikan
    2. Homoseksual
    3. Waria
    4. Pekerja seks
  5. Pramuria panti pijat

ODHIV (lama dan baru) yang berkunjung ke fasilitas pelayanan kesehatan akan dikaji (skrining) status TB melalui 5 tanda/gejala TB jika memang tidak dalam terapi pengobatan TB.

5 tanda/gejala TB yakni sebagai berikut:

a. Batuk

b. Demam

c. BB Menurun tanpa sebab jelas

d. Berkeringat tanpa aktifitas

e. Tanda gejala ekstra paru (misal pebesaran KGB dileher, ketiak, dan lain-lain)

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada TB HIV yakni dilihat dari pemeriksaan tanda vital dan indeks masa tubuh.

Kelainan pada TB Paru tergantung luas kelainan struktur paru. Pada awal permulaan perkembangan penyakit umumnya sulit sekali menemukan kelainan.

Pemeriksaan Bakteriologis

Penegakan diagnosis TB baik pada orang dengan HIV negatif maupun dengan HIV positif pada dasarnya sama.

Pada umumnya didasarkan pada pemeriksaan bakteriologis dahak namun pada ODHIV dengan TB seringkali diperoleh hasil bakteriologis negatif.

Pada ODHIV sering dijumpai TB ekstra paru di mana diagnosisnya sulit ditegakkan karena harus didasarkan pada hasil pemeriksaan klinis, bakteriologi dan atau histologi spesimen yang didapat dari tempat lesi.

Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan darah lengkap dapat dijumpai limfositosis/ monositosis, LED meningkat, Hb turun.
  2. Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan Asam/ BTA) atau kultur kuman dari spesimen sputum/ dahak sewaktu-pagi-sewaktu.
  3. Untuk TB non paru, spesimen dapat diambil dari bilas lambung, cairan serebrospinal, cairan pleura ataupun biopsi jaringan.
  4. Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/top lordotik.
  5. Pemeriksaan kadar CD4
  6. Uji anti-HIV

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis TB HIV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan bakteriologis.

Dokter melakukan evaluasi klinis secara menyeluruh dan menilai hasil pemeriksaan penunjang untuk mengambil keputusan terapi.

 

Diagnosis Banding

  1. Kriptokokosis
  2. Pneumocystic carinii pneumonia (PCP)
  3. Aspergillosis

Komplikasi

  1. Limfadenopati
  2. Efusi pleura
  3. Penyakit perikardial
  4. TB Milier
  5. Meningitis TB

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

  1. Pada dasarnya pengobatannya sama dengan pengobatan TB tanpa HIV/AIDS
  2. Prinsip pengobatan adalah menggunakan kombinasi beberapa jenis obat dalam jumlah cukup dan dosis serta jangka waktu yang tepat.
  3. Pada prinsipnya pengobatan TB pada ODHIV yang belum dalam pengobatan ARV maka pengobatan ARV dimulai setelah pengobatan TB ditoleransi tanpa menilai stadium atau nilai CD4, ditandai dengan kondisi klinis dan fungsi hati baik, dianjurkan diberikan paling cepat 2 minggu dan paling lambat 8 minggu.
  4. Pada pengobatan TB pada ODHIV yang sedang dalam pengobatan ARV, bila pasien sedang dalam pengobatan ARV lini pertama, pengobatan TB dapat langsung diberikan. Jika pasien menggunakan nevirapin, sebaiknya di substitusi dengan efavirenz selama pemberian rifampicin. Jika pasien dalam pengobatan ARV lini kedua sebaiknya dirujuk ke PDP untuk diatur rencana pengobatan TB bersama dengan pengobatan ARV (pengobatan koinfeksi TB HIV).
  5. Perlu diperhatikan, pemberian secara bersamaan membuat pasien menelan obat dalam jumlah yang banyak sehingga dapat terjadi ketidakpatuhan, komplikasi, efek samping, interaksi obat, dan immune Reconstitution Inflammatory Syndrome.
  6. Setiap penderita TB-HIV harus diberikan profilaksis kotrimoksasol dengan dosis 960 mg/hari (dosis tunggal) selama pemberian OAT.
  7. Pemberian tiasetazon pada pasien HIV/AIDS sangat berbahaya karena akan menyebabkan efek toksik berat pada kulit.
  8. Injeksi streptomisin hanya boleh diberikan jika tersedia alat suntik sekali pakai yang steril.
  9. Desensitisasi obat (INH/Rifampisin) tidak boleh dilakukan karena mengakibatkan efek toksik yang serius pada hati.
  10. Pada pasien TB dengan HIV/AIDS yang tidak memberi respons terhadap pengobatan, selain dipikirkan terdapatnya malabsorbsi obat. Pada pasien HIV/AIDS terdapat korelasi antara imunosupresi yang berat dengan derajat penyerapan, karenanya dosis standar yang diterima suboptimal sehingga konsentrasi obat rendah dalam serum.

 

Konseling dan Edukasi

Pada daerah dengan angka prevalensi HIV yang tinggi pada populasi dengan kemungkinan koinfeksi TB HIV maka konseling dan pemeriksaan HIV diindikasi untuk seluruh pasien TB sebagai bagian dari penatalaksanaan rutin.

Pada daerah dengan prevalensi HIV yang rendah, konseling dan pemeriksaan HIV diindikasi pada pasien TB dengan keluhan dan tanda-tanda yang diduga berhubungan dengan HIV pada pasien TB dengan Riwayat risiko terpajan HIV.

Konseling dilakukan pada pasien yang dicurigai HIV dengan merujuk pasien ke pelayanan VCT (Voluntary Counceling and Testing).

Kriteria Rujukan

  1. Pasien dengan MTB (-), klinis (+) tapi tidak menunjukkan perbaikan setelah pengobatan dalam jangka waktu tertentu.
  2. Pasien dengan MTB (-), klinis (-/meragukan).
  3. Pasien dengan MTB tetap (+) setelah jangka waktu tertentu.
  4. TB dengan komplikasi/keadaan khusus (TB dengan komorbid).

Peralatan

  1. Laboratorium untuk pemeriksaan sputum, darah rutin
  2. Radiologi dengan foto toraks

Prognosis

Prognosis pada umumnya baik apabila pasien melakukan terapi sesuai dengan ketentuan pengobatan.

Untuk TB dengan komorbid, prognosis menjadi kurang baik.

Referensi

  1. Panduan Pelaksanaan Program Kolaborasi TB-HIV. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta. 2015
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/755/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis