11. Keracunan Makanan

exp date isn't null, but text field is

No. ICPC-2 : A86Toxic Effect Non Medical Substance

No. ICD-10 : T.62.2 Other Ingested (parts of plant(s))

 

Masalah Kesehatan

Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

  • Diare Akut.

Pada keracunan makanan biasanya berlangsung kurang dari 2 minggu.

Darah atau lendir pada tinja; menunjukkan invasi mukosa usus atau kolon.

  • Nyeri perut.
  • Nyeri kram otot perut; menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada kolera yang berat.
  • Kembung.

 

Faktor Risiko

  1. Riwayat makan/minum di tempat yang tidak higienis.
  2. Konsumsi daging/unggas yang kurang matang dapat dicurigai untuk Salmonella spp, Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium perfringens.
  3. Konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai untuk Norwalk-like virus, Vibrio spp, atau hepatitis A.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik Patognomonis

Pemeriksaan fisik harus difokuskan untuk menilai keparahan dehidrasi.

  1. Diare, dehidrasi, dengan tanda–tanda tekanan darah turun, nadi cepat, mulut kering, penurunan keringat, dan penurunan output urin.
  2. Nyeri tekan perut, bising usus meningkat atau melemah.

 

Pemeriksaan Penunjang

  1. Lakukan pemeriksaan mikroskopis dari feses untuk telur cacing dan parasit.
  2. Pewarnaan Gram, Koch dan metilen biru Loeffler untuk membantu membedakan penyakit invasif dari penyakit non-invasif.

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

 

Diagnosis Banding

  1. Intoleransi
  2. Diare spesifik seperti disentri, kolera dan lain-lain.

 

Komplikasi

Dehidrasi berat

 

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

  1. Karena sebagian besar kasus gastroenteritis akut adalah self-limiting, pengobatan khusus tidak diperlukan. Dari beberapa studi didapatkan bahwa hanya 10% kasus membutuhkan terapi antibiotik. Tujuan utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. Hal ini dapat dicapai dengan pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida isotonik, larutan Ringer Laktat). Rehidrasi oral dicapai dengan pemberian cairan yang mengandung natrium dan glukosa. Obat absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) membantu memadatkan feses diberikan bila diare tidak segera berhenti.
  2. Jika gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus ditentukan dengan melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk.
  3. Modifikasi gaya hidup dan edukasi untuk menjaga kebersihan diri.

 

Konseling dan Edukasi

Edukasi kepada keluarga untuk turut menjaga higiene keluarga dan pasien.

 

Kriteria Rujukan

  1. Gejala keracunan tidak berhenti setelah 3 hari ditangani dengan adekuat.
  2. Pasien mengalami perburukan.

Dirujuk ke pelayanan kesehatan sekunder dengan spesialis penyakit dalam atau spesialis anak.

 

Peralatan

  1. Cairan rehidrasi (NaCl 0,9%, RL, oralit )
  2. Infus set
  3. Antibiotik bila diperlukan

 

Referensi

Referensi

  1. Panduan Pelayanan PAPDI.
  2. Panduan Puskesmas untuk keracunan makanan. Depkes: Jakarta. 2007. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2007)

 

References

(Sumber: Bab II Daftar Panduan Praktik Klinik Berdasarkan Masalah dan Penyakit, Permenkes No. HK.01.07/MENKES/1936/2022 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1186/2022 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama)