6. Hipertensi Esensial

exp date isn't null, but text field is

No ICPC-2 : K86 Hypertension uncomplicated

No ICD-10 : I10 Essential (primary) hypertension

 

Masalah Kesehatan

Hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyababnya. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik >140 mmHg dan/atau diastolik >90 mmHg yang menjadi masalah karena meningkatnya prevalensi, masih banyak pasien yang belum mendapat pengobatan, maupun yang telah mendapat terapi tetapi target tekanan darah belum tercapai serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

Hipertensi pada anak harus mendapat perhatian yang serius, karena bila tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menetap hingga dewasa. Pada usia remaja penyebab tersering hipertensi adalah primer, yaitu sekitar 85-95%. Hipertensi harus dideteksi sedini mungkin agar dapat ditangani secara tepat, maka pemeriksaan tekanan darah yang cermat harus dilakukan secara berkala setiap tahun setelah anak berusia tiga tahun.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Anamnesis dilakukan untuk menanyakan:

  1. Riwayat perinatal dan keluarga.
  2. Riwayat asupan makan.
  3. Riwayat aktifitas fisik.
  4. Riwayat psikososial.
  5. Riwayat penggunaan obat-obatan dan faktor lingkungan.
  6. Keluhan hipertensi antara lain: Sakit atau nyeri kepala, Gelisah, Jantung berdebar-debar, Pusing, Leher kaku,Penglihatan kabur, Rasa sakit di dada.
  7. Keluhan tidak spesifik antara lain kepala tidak nyaman, mudah lelah dan impotensi.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dilakukan:

  1. Pengukuran tinggi dan berat badan.
  2. Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu).
  3. Lingkar pinggang (waist circumference), dan
  4. Tanda/gejala deteksi dini komplikasi kerusakan organ target akibat hipertensi.

Pemeriksaan tanda dan gejala tersebut meliputi pemeriksaan neurologis dan status kognitif, funduskopi untuk hipertensi retinopati, inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi jantung, palpasi dan auskultasi arteri karotis, palpasi pada arteri perifer, perbandingan TD pada kedua lengan atas kanan dan kiri, dan pemeriksaan ABI (ankle brachial index).

Pemeriksaan tanda dan gejala hipertensi sekunder juga harus dilakukan, yaitu: inspeksi kulit (café-au-lait patches pada neurofibromatosis (phaechromocytoma)), palpasi ginjal pada pembesaran ginjal karena penyakit ginjal polikistik, auskultasi murmur  atau  bruit  pada  jantung  dan  arteri  renalis,  tanda  dan gejala yang mengarah adanya koarktasio aorta, atau hipertensi renovaskular, tanda penyakit Cushing’s atau akromegali, serta tanda penyakit tiroid.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hypertension Mediated Organ Damage (HMOD) merujuk pada perubahan struktural dan fungsional arteri pada organ (jantung, pembuluh darah, otak, mata, dan ginjal). Pada sebagian besar pasien, HMOD dapat asimtomatik. Beberapa jenis HMOD dapat reversibel dengan terapi antihipertensi khususnya pada hipertensi awitan dini, tetapi pada awitan lama HMOD mungkin irreversibel meskipun TD kembali terkontrol. Skrining direkomendasikan kepada semua pasien hipertensi dengan interval waktu setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali, sehingga terapi optimal dapat diberikan. Adapun penapisan dasar HMOD terangkum dalam Tabel dibawah ini:

Pemeriksaan penunjang pada hipertensi anak bertujuan untuk mencari penyebab yang mendasari hipertensi, berikut ini adalah pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk diagnosis penyebab hipertensi pada anak (tabel 2).

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

1. Hipertensi Esensial pada anak

Pada tahun 2017 AAP melakukan perbaikan terhadap klasifikasi yang sudah digunakan untuk mengidentifikasi hipertensi pada anak seperti terlihat pada tabel 9 di bawah ini:

Pada tahun 2017 AAP juga mengeluarkan tabel normatif tekanan darah yang telah disederhanakan, yang bertujuan sebagai alat skrining dalam mengidentifikasi anak dan remaja yang memerlukan evaluasi tekanan darah lebih lanjut.

2. Hipertensi esensial pada orang dewasa

Hipertensi esensial pada orang dewasa memiliki klasifikasi sebagaimana yang dijelaskan pada tabel 5 berikut ini:

Sedangkan klasifikasi Hipertensi berdasarkan derajat tekanan darah, faktor risiko kardiovaskular, HMOD atau komorditas dikelompokkan sebagai berikut:

 

Tabel 6. Klasifikasi risiko hipertensi berdasarkan derajat tekanan darah, faktor risiko kardioserebrovaskular, HMOD atau komorbiditas

Penapisan hipertensi dapat dilakukan secara mandiri dengan menggunakan alat ukur tekanan darah secara berkala maupun pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai berikut:

 

Gambar 1. Alur Penapisan dan diagnosis hipertensi

 

Disamping itu penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada hipertensi dewasa diperlukan untuk memperhitungkan efek berbagai fakor risiko yang dimiliki pasien. Direkomendasikan untuk selalu mencari faktor risiko metabolik (diabetes, gangguan tiroid dan lainnya) pada pasien dengan hipertensi dengan atau tanpa penyakit jantung dan pembuluh darah untuk memudahkan klinisi dalam mengklasifikasi risiko hipertensi. Pada individu dengan katagori risiko tinggi dan sangat tinggi, hipertensi dengan komorbidnya perlu langsung diobati.

Penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi yang belum memiliki risiko tinggi atau sangat tinggi karena sudah menyandang penyakit ginjal, diabetes, penyakit jantung atau hipertrofi ventrikel kiri dapat dilakukan dengan menggunakan SCORE sistem atau Tabel Prediksi risiko penyakit tidak menular yang memprediksi risiko kejadian kardiovaskular dalam 10 tahun berdasarkan faktor risiko.

Tabel Prediksi Risiko PTM, diadaptasi dari “WHO Cardiovascular Disease Risk Charts” yang dikeluarkan tahun 2020 yang digunakan dalam pelayanan terpadu (PANDU) PTM di FKTP. Terdapat 2 jenis tabel prediksi risiko PTM, yaitu berdasarkan hasil laboratorium (memerlukan nilai kolesterol total dan diagnosis diabetes melitus) dan tanpa hasil laboratorium (memerlukan nilai Indeks Massa Tubuh). Tabel prediksi berdasarkan hasil laboratorium, memprediksi risiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler 10 tahun mendatang, berdasarkan status diabetes melitus, jenis kelamin, status merokok, umur, tekanan darah sistolik, dan nilai kolesterol total. Sedangkan tabel prediksi tanpa hasil laboratorium, memprediksi risiko seseorang menderita penyakit kardiovaskuler 10 tahun mendatang, berdasarkan jenis kelamin, status merokok, umur, tekanan darah sistolik, dan nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) yang dapat diakses melalui link https://link.kemkes.go.id/tabelprediksirisikoptm

 

Diagnosis Banding

  1. White collar hypertension,
  2. Nyeri akibat tekanan intraserebral,
  3. Ensefalitis,
  4. Hipertensi sekunder (terutama bila hipertensi ditemukan pada usia sangat muda atau lanjut usia),
  5. Hiperaldostreonisme,
  6. Koartio aorta,
  7. Stenosis arteri renal,
  8. Penyakit ginjal kronik,
  9. Penyakit Katup aorta,
  10. Cushing syndrome,
  11. Hipertiroid

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

  1. Pada Hipertensi Essensial dewasa
    1. Perubahan gaya hidup

Pola hidup sehat telah terbukti menurunkan tekanan darah yaitu:

        a. Pembatasan konsumsi garam dan alkohol.

b. Peningkatan konsumsi sayuran dan buah, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal (IMT 18,5 – 22,9 kg/m2).

c. Aktivitas fisik teratur ringan sampai sedang (minimal 30 menit sehari, contohnya: mengepel lantai, menyapu lantai, dan mencuci mobil), serta menghindari rokok.

d. Pola makan yang direkomendasikan untuk pasien hipertensi adalah DASH diet dan pembatasan konsumsi natrium. Pola diet DASH adalah diet kaya akan sayuran, buah-buahan, produk susu rendah lemak/bebas lemak (susu skim), unggas, ikan, berbagai macam variasi kacang, dan minyak sayur nontropis (minyak zaitun), serta kaya akan kalium, magnesium, kalsium, protein, dan serat. Diet ini rendah gula, minuman manis, natrium, dan daging merah, serta lemak jenuh, lemak total, dan kolesterol.

e. Rekomendasi nutrisi dan perencanaan makanan sesuai dengan DASH terangkum dalam Tabel 7.

 

Salah satu pertimbangan untuk memulai terapi medikamentosa pada hipertensi dewasa adalah nilai atau ambang tekanan darah, berikut ini tabel ambang batas tekanan darah untuk inisiasi pengobatan:

 

Tabel 9. Ambang batas TD untuk inisiasi obat pada hipertensi dewasa

Dalam pemberian tatalaksana hipertensi dewasa maka diperlukan monitoring pencapaian target penurunan tekanan darah di fasilitas kesehatan yang disesuaikan dengan penyakit penyerta yang disandang penderita hipertensi dewasa dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

 

Tabel 10. Target tekanan darah di fasilitas pelayanan kesehatan

Tata laksana medikamentosa pada pasien hipertensi merupakan upaya untuk menurunkan tekanan darah secara efektif dan efisien, meskipun demikian pemberian obat antihipertensi bukan selalu merupakan langkah pertama dalam tata laksana hipertensi. Evaluasi intervensi gaya hidup dan pengobatan dilakukan dalam 4-6 minggu.

 

Gambar 2. Alur panduan Inisiasi terapi obat sesuai dengan klasifikasi hipertensi dewasa

Keterangan:

ACEi = angiotensin-converting enzyme inhibitor;

ARB = angiotensin receptor blocker;

CCB = calcium channel blocker;

MI   = myocardial infarction.

 

Strategi kombinasi obat hipertensi

Terdapat berbagai macam strategi untuk memulai dan meningkatkan dosis obat penurun TD.

  1. Pemberian monoterapi pada tatalaksana awal,
  2. meningkatkan dosisnya bila belum mencapai target penurunan tekanan darah, atau
  3. Penggantian dengan monoterapi lain.

Namun, strategi meningkatkan dosis monoterapi menghasilkan sedikit penurunan TD dan memberikan efek yang merugikan. Sementara jika beralih dari satu monoterapi ke yang lain akan memakan waktu dan seringkali tidak efektif.

Untuk alasan-alasan tersebut, dilakukan pendekatan bertingkat, yaitu memulai pengobatan dengan monoterapi yang berbeda dan kemudian secara berurutan menambahkan obat lain sampai kontrol TD tercapai. Strategi pengobatan berbasis bukti yang paling efektif untuk meningkatkan kontrol TD adalah:

  1. penggunaan pengobatan kombinasi terutama dalam konteks target TD yang lebih rendah;
  2. dianjurkan penggunaan terapi Single Pill Combination (SPC) untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan; dan
  3. mengikuti algoritma terapi dengan menggunakan terapi SPC sebagai terapi awal, kecuali pada pasien dengan TD dalam kisaran tinggi-normal dan pada pasien lanjut usia yang renta (frail).

 

 

 

b. Pada Hipertensi Anak

Tujuan pengobatan hipertensi pada anak adalah mengurangi risiko jangka pendek maupun panjang terhadap penyakit kardiovaskular dan kerusakan organ target. Upaya mengurangi tekanan darah saja tidak cukup untuk mencapai tujuan ini. Selain menurunkan tekanan darah dan meredakan gejala klinis, harus diperhatikan juga faktor-faktor lain seperti kerusakan organ target, faktor komorbid, obesitas, hiperlipidemia, kebiasaan merokok, dan intoleransi glukosa.

Pengobatan hipertensi pada anak dibagi ke dalam 2 golongan besar, yaitu non-farmakologis dan farmakologis yang bergantung pada usia anak, tingkat hipertensi dan respons terhadap pengobatan.

  • Pengobatan Non-Farmakologis:
    1. Mengubah Gaya Hidup

penurunan berat badan, Penurunan berat badan terbukti efektif mengobati hipertensi pada anak yang mengalami obesitas.

b. Diet rendah lemak dan garam,. Diet rendah garam yang dianjurkan adalah 1,2 g/hari pada anak usia 1-8 tahun dan 1,5 g/hari pada anak yang lebih besar.

c. Olahraga secara teratur merupakan cara yang sangat baik dalam upaya menurunkan berat badan dan tekanan darah sistolik maupun diastolik. Olahraga teratur akan menurunkan tekanan darah dengan cara meningkatkan aliran darah, mengurangi berat badan dan kadar kolesterol dalam darah, serta mengurangi stres.

d. Seorang anak yang tidak kooperatif dan tetap tidak dapat mengubah gaya hidupnya perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan obat anti hipertensi.

e. Hindari konsumsi makanan ringan di antara waktu makan yang pokok,

f. Kurangi makanan ringan yang mengandung banyak lemak atau terlampau manis. Buat pola makan teratur dengan kandungan gizi seimbang dan lebih diutamakan untuk banyak mengkonsumsi buah dan sayuran.

g. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami obesitas dan hipertensi dibandingkan dengan anak yang mendapat susu formula.

h. Asupan makanan mengandung kalium dan kalsium juga merupakan salah satu upaya untuk menurunkan tekanan darah. Pengobatan farmakologis.

  • Pengobatan farmakologis

Pada saat memilih jenis obat yang akan diberikan kepada anak yang menderita hipertensi, harus dimengerti tentang mekanisme yang mendasari terjadinya penyakit hipertensi tersebut. Perlu ditekankan bahwa tidak ada satupun obat antihipertensi yang lebih baik dibandingkan dengan jenis yang lain dalam hal efektivitasnya untuk mengobati hipertensi pada anak. Menurut the National High Blood Pressure Education Program (NHBEP) Working Group on High Blood Pressure in Children and Adolescents obat yang diberikan sebagai antihipertensi harus mengikuti aturan berjenjang (step-up), dimulai dengan satu macam obat pada dosis terendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai efek terapoitik, atau munculnya efek samping, atau bila dosis maksimal telah tercapai. Kemudian obat kedua boleh diberikan, tetapi dianjurkan menggunakan obat yang memiliki mekanisme kerja yang berbeda.

 

Indikasi pemberian obat antihipertensi pada anak:

  1. Hipertensi simtomatik.
  2. Kerusakan organ target, seperti retinopati, hipertrofi ventrikel kiri, dan proteinuria.
  3. Hipertensi sekunder.
  4. Diabetes melitus.
  5. Hipertensi tingkat 1 yang tidak menunjukkan respons dengan perubahan gaya hidup.
  6. Hipertensi tingkat 2.

 

Pemilihan obat yang pertama kali diberikan pada anak sangat bergantung pada pengetahuan dan kebijakan dokter:

  1. Golongan diuretik dan β-blocker merupakan obat yang dianggap aman dan efektif untuk diberikan kepada anak.
  2. Bila ada penyakit penyerta, golongan obat lain yang perlu dipertimbangkan adalah:
    1. penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE) pada penderita diabetes melitus atau terdapat proteinuria,
    2. β-adrenergic atau Calcium Channel Blocker (CCB) pada anak-anak yang mengalami migrain.
    3. Pada glomerulonefritis akut pasca streptokokus pemberian diuretik merupakan pilihan utama, karena hipertensi pada penyakit ini disebabkan oleh retensi natrium dan air. Golongan penghambat ACE dan reseptor angiotensin (ARB) semakin banyak digunakan pada penyakit ini karena memiliki keuntungan mengurangi proteinuria.
    4. Penggunaan obat penghambat ACE harus hati-hati pada anak yang mengalami penurunan fungsi ginjal. Meskipun kaptopril saat ini telah digunakan secara luas pada anak yang menderita hipertensi,
    5. Obat penghambat ACE yang baru, yaitu enalapril. Obat ini memiliki masa kerja yang panjang, sehingga dapat diberikan dengan interval yang lebih panjang dibandingkan dengan kaptopril. Obat yang memiliki mekanisme kerja hampir serupa dengan penghambat ACE adalah penghambat reseptor angiotensin II Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Obat ini lebih selektif dalam mekanisme kerjanya dan memiliki efek samping yang lebih sedikit (misalnya terhadap timbulnya batuk) dibandingkan dengan golongan penghambat ACE.

       

 

Prinsip dasar pengobatan anti hipertensi kombinasi adalah menggunakan obat-obatan dengan tempat dan mekanisme kerja yang berbeda. Pemilihan obat juga harus sesederhana mungkin, yaitu dengan menggunakan obat dengan masa kerja panjang, sehingga obat cukup diberikan satu atau dua kali sehari.

Lama pengobatan yang tepat pada anak dan remaja hipertensi tidak diketahui dengan pasti. Beberapa keadaan memerlukan pengobatan jangka panjang, sedangkan keadaan yang lain dapat membaik dalam waktu singkat. Oleh karena itu, bila tekanan darah terkontrol dan tidak terdapat kerusakan organ, maka obat dapat diturunkan secara bertahap, kemudian dihentikan dengan pengawasan yang ketat setelah penyebabnya diperbaiki. Tekanan darah harus dipantau secara ketat dan berkala karena banyak penderita akan kembali mengalami hipertensi di masa yang akan datang.

Pada tabel 11 di bawah ini diperlihatkan petunjuk untuk menurunkan secara bertahap pengobatan hipertensi bila tekanan darah telah terkontrol.

 

 

Komplikasi

  1. Hipertrofi ventrikel kiri
  2. Proteinurea dan gangguan fungsi ginjal
  3. Aterosklerosis pembuluh darah
  4. Retinopati
  5. Stroke atau TIA
  6. Gangguan jantung, misalnya infark miokard, angina pektoris, serta gagal jantung

 

Konseling dan Edukasi

  1. Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara obat-obatan yang harus diminum untuk jangka panjang (misalnya untuk mengontrol tekanan darah) dan pemakaian jangka pendek untuk menghilangkan gejala (misalnya untuk mengatasi mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
  2. Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang. Kontrol pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk mengoptimalkan hasil pengobatan.
  3. Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga kecukupan pasokan obat-obatan dan minum obat teratur seperti yang disarankan meskipun tak ada gejala.
  4. Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan pengukuran kadar gula darah, tekanan darah dan periksa urin secara teratur. Pemeriksaan komplikasi hipertensi dilakukan setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali.

 

Kriteria Rujukan

Time:

  1. Tidak tercapainya target tekanan darah dalam 3 bulan dengan antihipertensi tunggal/kombinasi
  2. Hipertensi Krisis
  3. Hipertensi Resistensi
  4. Tekanan darah sistolik >140 mmHg, atau diastolik >90 mmHg dalam 3 bulan berturut-turut

Age:

  1. Hipertensi pada lansia

Comorbidity

  1. Pasien yang disertai dengan dislipidemia, anemia, infeksi, TB paru atau lainnya
  2. Kehamilan dan gagal jantung
  3. Hipertensi Sekunder
  4. Hipertensi yang disertai dengan aritmia

Complication:

  1. Gagal jantung
  2. Retinopati
  3. Hipertensi dengan kerusakan organ target

 

Tatalaksana Rujuk Balik

Peserta rujuk balik hipertensi dalam kondisi stabil tetap ke FKTP untuk mendapatkan pengobatan selama 30 hari dan mendapatkan kegiatan kelompok dalam bentuk edukasi dan senam serta mendapatkan pemeriksaan fisik, pengobatan dan konseling factor risiko.

 

Peralatan

  1. Sfigmomanometer
  2. Stetoskop
  3. Ophtalmoskop
  4. Fotometri
  5. Laboratorium untuk     melakukan     pemeriksaan     urinalisis     dan glukosa urin, glukosa darah, profil lipid, dan ureum-kreatinin
  6. EKG

 

Prognosis

Prognosis umumnya bonam apabila terkontrol.

 

Deteksi Dini/Skrining

  • Hipertensi Dewasa

Penapisan dan deteksi hipertensi direkomendasikan untuk semua pasien >18 tahun:

  1. Pada pasien berusia > 50 tahun, frekuensi penapisan hipertensi ditingkatkan sehubungan dengan peningkatan angka prevalensi tekanan darah sistolik.
  2. Perbedaan TDS >15 mmHg antara kedua lengan sugestif suatu penyakit vaskular dan berhubungan erat dengan tingginya risiko penyakit kardiovaskular.
  3. Pada kecurigaan penyakit vaskuler (koartasio aorta, diseksi aorta, atau penyakit arteri perifer) dilakukan pengukuran tekanan darah pada ke empat ekstrimitas.
  4. Skrining komplikasi hipertensi pada usia penderita hipertensi ≥ 40 tahun. Skrining faktor resiko komplikasi yang dilakukan adalah pemeriksaan proteinuria, gula darah, profil lipid, EKG, foto thorax, dan funduskopi mata.

 

  • Hipertensi pada Anak

Pada tahun 2017 AAP merekomendasikan pemeriksaan tekanan darah mulai dilakukan setiap tahun setelah anak berusia 3 tahun, sepanjang tidak ada faktor risiko hipertensi pada anak tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk deteksi dini adanya hipertensi asimtomatik, serta mencegah komplikasi jangka pendek dan panjang. Meskipun demikian, apabila pada anak tersebut terdapat berbagai faktor risiko seperti obesitas, menggunakan obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah, penyakit ginjal, riwayat koarktasio aorta atau diabetes, maka pemeriksaan tekanan darah tersebut harus dilakukan pada setiap kali kunjungan ke petugas medis.

 

Referensi

  1. Direktorat Penyakit Tidak Menular. Buku Pedoman Pengendalian Hipertensi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2013.
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/4613/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Pada Anak.
  3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/4634/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Dewasa.
  4. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi, Jakarta, 2019.