2. Infark Miokard

exp date isn't null, but text field is

No. ICPC-2 : K75 Acute Myocardial Infarction

No. ICD-10 : I21.9 Acute Myocardial Infarction, Unspecified

 

Masalah Kesehatan

Infark miokard (IM) adalah perkembangan cepat dari nekrosis otot jantung yang disebabkan oleh ketidakseimbangan kritis antara suplai oksigen dan kebutuhan miokardium. Umumnya disebabkan ruptur plak dan trombus dalam pembuluh darah koroner dan mengakibatkan kekurangan suplai darah ke miokardium.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

  1. Nyeri dada retrosternum seperti tertekan atau tertindih benda berat.
  2. Nyeri menjalar ke dagu, leher, tangan, punggung, dan epigastrium. Penjalaran ke tangan kiri lebih sering terjadi.
  3. Disertai gejala tambahan berupa sesak, mual, muntah, nyeri epigastrium, keringat dingin, dan cemas.

 

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

  1. Pasien biasanya terbaring dengan gelisah dan kelihatan pucat.
  2. Hipertensi/hipotensi.
  3. Dapat terdengar suara murmur dan gallop S3.
  4. Ronki basah disertai peningkatan vena jugularis dapat ditemukan pada AMI yang disertai edema paru.
  5. Dapat ditemukan aritmia.

 

Pemeriksaan Penunjang

EKG:

  1. Pada ST  Elevation  Myocardial  infarct  (STEMI),  terdapat  elevasi segmen ST diikuti dengan perubahan sampai inversi gelombang T, kemudian muncul peningkatan gelombang Q minimal di dua sadapan.
  2. Pada Non ST Elevation Myocardial infarct (NSTEMI), EKG yang ditemukan dapat berupa depresi segmen ST dan inversi gelombang T, atau EKG yang normal.

 

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Hasil Diagnosis 

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Kriteria diagnosis pasti jika terdapat 2 dari 3 hal di bawah ini:

  1. Klinis: nyeri dada khas angina.
  2. EKG: ST elevasi atau ST depresi atau T inverted.
  3. Laboratorium: peningkatan enzim jantung.

Klasifikasi Infark Miokard:

  1. STEMI ditegakkan jika terdapat keluhan angina pectoris acute disertai elevasi segmen ST yang persisten di dua sandapan yang bersebelahan.
  2. NSTEMI/UAP di tegakkan jika terdapat keluhan angina pectoris acute tanpa elevasi segmen ST yang persisten di dua sandapan yang bersebelahan namun ditemukan marka jantung troponin I/T atau CKMB meningkat sedikit melampaui nilai normal atas.

 

Diagnosis Banding

Angina  pektoris  prinzmetal, Unstable angina pectoris, Ansietas, Diseksi aorta, Dispepsia, Miokarditis, Pneumothoraks, Emboli paru.

 

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Segera rujuk ke layanan sekunder dengan spesialis jantung atau spesialis penyakit dalam, setelah pemberian :

  1. Oksigen 2-4 liter/menit.
  2. Nitrat, ISDN 5-10 mg sublingual maksimal 3 kali.
  3. Aspirin, dosis awal 320 mg dilanjutkan dosis pemeliharaan 1 x 160 mg.
  4. Dirujuk dengan terpasang infus dan oksigen.

Komplikasi

  1. Aritmia letal
  2. Perluasan infark dan iskemia paska infark
  3. Disfungsi otot jantung
  4. Ruptur miokard

 

Konseling dan Edukasi

  1. Edukasi untuk kemungkinan kegawatan dan segera dirujuk.
  2. Modifikasi gaya hidup.

 

Tatalaksana Rujuk Balik

Peserta rujuk balik Infark Miokard dalam kondisi stabil tetap ke FKTP untuk mendapatkan pengobatan selama 30 hari sesuai dengan anjuran dari dokter ahli di FKTRL, mendapatkan layanan dalam kegiatan kelompok berbentuk edukasi dan senam serta mendapatkan pemeriksaan fisik, pengobatan dan konseling faktor risiko.

 

Peralatan

  1. Tabung oksigen
  2. Masker oksigen
  3. Elektrokardiografi

 

Prognosis

Prognosis umumnya dubia, tergantung pada pada tatalaksana dini dan tepat.

 

Deteksi Dini/Skrining

Untuk deteksi dini faktor risiko Infark Miokard, di rekomendasikan kepada semua pasien hipertensi dan/atau diabetus melitus dengan interval waktu setiapa 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali yang meliputi pemeriksaan sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan antropometri (TB, BB, IMT dan Lingkar perut) untuk menilai adanya obesitas umum dan obesitas sentral.
  2. Pemeriksaan Tekanan darah.
  3. Pemeriksaan gula darah.
  4. Pemeriksaan kolesterol untuk menilai adanya sindrom metabolik, seperti dislipidemia pada seluruh penyandang hipertensi dan/atau diabetus melitus berusia ≥ 40 tahun.
  5. Pemeriksaan EKG untuk melihat adanya fibrilasi atrium dan penyakit jantung lainnya pada seluruh penyandang hipertensi dan/atau diabetus melitus berusia ≥ 40 tahun.

 

Referensi

  1. Panduan Pelayanan Medik, PAPDI, 2009 (Departemen    Ilmu Penyakit Dalam FKUI RSCM, 2004).
  2. Isselbacher, J Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 3. Jakarta: EGC.2000 (Isselbacher, 2000).
  3. O’Rouke., Fuster. Hurst’s The Heart Manual of Cardiology.12th Ed.McGrawHill.2009. (Isselbacher, 2000).
  4. Sudoyo, Aaru, Bambang Setiyohadi. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: FKUI.2007. (Sudoyo, et al., 2006).